Perjalanan kami ke Kusatsu Onsen di Prefektur Gunma awalnya tidak kami anggap sebagai sesuatu yang spesial. Kami berangkat dengan pikiran sederhana: jalan-jalan, melihat tempat baru, lalu kembali.
Tapi justru dari perjalanan yang santai itu, banyak hal kecil yang akhirnya terasa lebih bermakna.
Awal Perjalanan yang Santai
Tanggal 15 April 2026 pagi, kami tiba di Haneda Airport dan langsung dijemput oleh keluarga teman kami. Kami tidak langsung menuju Gunma. Ada waktu untuk berkeliling Tokyo terlebih dahulu.
Tidak ada agenda khusus. Kami hanya menikmati perjalanan, berbincang ringan di dalam mobil, sesekali melihat suasana kota. Anak kami juga terlihat menikmati semuanya dengan cara yang sederhana—lebih banyak melihat keluar jendela, memperhatikan hal-hal di sepanjang jalan.
Perjalanan terasa mengalir.
Makan Siang Sederhana yang Berkesan
Menjelang siang, kami keluar dari Tokyo dan berhenti di Prefektur Saitama. Kami makan di Inakappe Udon, tempat kecil yang dari luar terlihat biasa saja.

Namun begitu makanan disajikan, kesannya langsung berubah. Udon-nya tebal, kenyal, dan disajikan hangat. Kuahnya gurih, terasa dalam tanpa berlebihan. Kami juga mencoba kinpira gobo—menu sederhana, tapi rasanya pas dan tidak membosankan.
Momen seperti ini sering kali tidak direncanakan, tapi justru paling diingat.
Menuju Sawatari, Suasana Berubah
Perjalanan dilanjutkan menuju Sawatari Onsen. Semakin jauh dari Tokyo, suasana mulai berubah. Jalanan semakin lengang, pemandangan didominasi hutan, dan kendaraan lain semakin jarang terlihat.

Ritme perjalanan terasa lebih pelan. Tidak banyak distraksi, tapi justru membuat kami lebih menikmati perjalanan itu sendiri.
Kami tiba di Sawatari Ryumeikan dengan suasana yang tenang dan sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Perjalanan ke Yubatake: Sepi di Luar, Hangat di Dalam
Keesokan harinya, 16 April sekitar pukul 12.30, kami berangkat dari Sawatari Onsen menuju Yubatake.
Begitu meninggalkan penginapan, jalan langsung berubah. Menanjak, berliku, dan dikelilingi hutan. Sepanjang perjalanan, hampir tidak ada kendaraan lain. Bahkan dalam waktu cukup lama kami tidak melihat orang sama sekali.
Di beberapa titik, terlihat rumah-rumah di pinggir jalan, namun banyak yang kosong. Menurut penjelasan teman kami, kondisi ini cukup umum di Jepang. Banyak anak muda pindah ke kota, sementara jumlah penduduk di daerah seperti ini terus berkurang. Akibatnya, rumah-rumah perlahan ditinggalkan, bahkan ada yang sudah tidak lagi jelas kepemilikannya.
Di tengah suasana seperti itu, kami sempat bercanda soal mobil mogok.
“Kalau mogok di sini, bisa repot ya.”
Makoto menjawab santai, “Kalau mogok, Pak Santany jalan kaki saja… kami di mobil saja, tidak berani keluar.”
Kami tertawa. Tapi tetap saja, suasana di luar membuat kami sadar bahwa tempat ini memang tidak bisa dianggap biasa. Apalagi kami juga sempat mendengar bahwa kawasan ini masih memiliki satwa liar seperti beruang.
Yang menarik, meskipun di luar sangat sunyi, suasana di dalam mobil justru hangat. Obrolan mengalir, sesekali diselingi tawa. Perjalanan terasa ringan, bahkan menyenangkan.
Kusatsu: Kontras yang Terasa
Begitu tiba di Kusatsu Onsen, suasana langsung berubah. Dari perjalanan yang sunyi, kami masuk ke kawasan yang ramai.
Di sekitar Yubatake, pengunjung berjalan santai, sebagian mengenakan yukata. Uap air panas terlihat jelas, menjadi ciri khas yang langsung terasa. Perubahan suasana ini cukup kontras, tapi justru membuat pengalaman terasa lebih lengkap.
Menikmati yang Sederhana
Udara dingin di Kusatsu menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Kami mencoba ashiyu—merendam kaki di air panas—dan langsung merasakan hangatnya. Anak kami terlihat menikmati momen tersebut.

Kami juga sempat berkeliling melihat toko-toko di sekitar kawasan. Barang-barang yang dijual memang tidak murah, tapi terlihat berkualitas dan memiliki ciri khas lokal.
Kembali dan Disambut Seperti Keluarga
Menjelang malam, kami kembali ke Sawatari Ryumeikan. Di sana, kami dijamu makan malam oleh keluarga besar Sumiya.
Suasananya hangat dan santai. Kami makan bersama, berbincang ringan, dan perlahan merasa semakin dekat. Hadir juga orang tua Makoto, termasuk Bapak Yoshimasa Sumiya.
Kami tidak merasa seperti tamu.
Kami merasa seperti keluarga.
Setelah makan malam, satu per satu mulai beristirahat. Hingga akhirnya tinggal kami dan Makoto. Obrolan berlanjut ke banyak hal—pekerjaan, keluarga, hingga pandangan hidup—tanpa terasa waktu semakin larut.
Teh Hangat dan Perhatian yang Tulus
Sebelum masuk kamar, kami sempat membeli teh hangat di vending machine. Di udara dingin, minuman sederhana itu terasa sangat pas.

Keesokan harinya, sebelum berpisah, keluarga Makoto memberikan oleh-oleh. Ternyata mereka sudah menyiapkannya tanpa kami ketahui sebelumnya.
Hal kecil, tapi terasa tulus.
Lebih dari Sekadar Perjalanan
Pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang mengunjungi Kusatsu Onsen.

Yang paling membekas justru perjalanan itu sendiri—obrolan di dalam mobil, tawa sepanjang jalan, dan perhatian dari orang-orang yang kami temui.
Hal-hal sederhana seperti itu yang justru paling lama diingat